|
 Peoples of the border area adalah masyarakat yang terpinggirkan, tapi juga masyarakat yang menjadi tulang punggung perbatasan antar negara. Bergeser tidaknya patok batas antar negara, bertambah atau berkurangnya lahan negara banyak tergantung pada masyarakat yang hidup dan bermukim di border area. Dilema yang dihadapi masyarakat Indonesia yang hidup di perbatasan jelas memprihatinkan. Letak wilayah kampung mereka yang sangat jauh dari pusat-pusat pertumbuhan regional membuat mereka cenderung terisolasi dari pembangunan infrastruktur maupun ekonomi. Kondisi ini kemudian membuat tingkat kesejahteraan mereka seolah tidak pernah beranjak dari sejak jaman nenek moyang mereka ratusan tahun lalu. Di sisi lain lain, mereka adalah penjaga tapal batas antar negara dan desa mereka adalah buffer zona yang menjadi pagar masuknya para pendatang legal dan ilegal dari negara lain. Kehidupan mereka yang terpencil dari pusat-pusat peradaban dan pusat pertumbuhan regional, membuat mereka lebih banyak berinteraksi dengan masyarakat dari negara tetangga, terutama untuk hubungan ekonomi. Pada kasus masyarakat yang bermukim di perbatasan Malindo (Malaysia-Indonesia) misalnya, di wilayah Sajingan Besar, Sambas, Kalbar yang berbatasan langsung dengan Biawak, Lundu, Malaysia, jarang dijumpai produk kebutuhan sehari-hari seperti beras dan gula yang berasal dari Indonesia. Masyarakat Sajingan Besar membeli produk-produk tersebut dari Malaysia karena lebih dekat dan lebih mudah mendapatkannya di Biawak ketimbang ke pusat pertumbuhan ekonomi kabupaten yang jaraknya puluhan kali lebih jauh. |
|
Read more...
|
|
 TREND SETTER Where's brotherhood has no limit, delapan tahun sudah kalimat itu didengungkan dan menjiwai keberadaan HTML sampai saat ini. Dengan semangat persaudaraan itu pula, HTML telah menjelma menjadi komunitas otomotif roda dua terbesar di Indonesia. Dalam kurun waktu delapan tahun lebih (2000-2009), HTML tumbuh begitu pesat dengan 2.000 anggota bernomor dan mencapai 8.000 anggota subscriber di mailing list utama HTML dan website KHTI, tersebar di 20 wilayah dari ujung Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi sampai ke Pulau Bali dan NTB. Dari awal berdirinya, HTML sudah menetapkan diri sebagai komunitas murni otomotif berbasis maya, sebuah bentuk yang berbeda dari kumpulan lain saat itu yang umumnya mengambil bentuk sebagai klub berbasis pertemuan darat. Bentuk komunitas memiliki beberapa keunggulan dibanding klub dari sisi percepatan pertumbuhan sebuah organisasi. Komunitas terbangun dari ikatan-ikatan yang secara rumit saling terkait melalui komunikasi, tanpa mempersoalkan bentuk komunikasi tersebut apakah tatap muka atau melalui media seperti internet. Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi komunikasi (mailing list dan website) inilah, HTML dapat dengan leluasa menumbuhkembahkan komunitas tanpa terhalang oleh waktu, ruang dan jarak. Salah satu komponen pembentuk komunitas adalah ikatan dalam bentuk tujuan, kepercayaan dan pengetahuan. HTML yang dibangun pertama kali berdasarkan persamaan hobby para pendirinya telah memenuhi syarat komponen pembentuknya. Persamaan hobby kemudian berkembang menjadi rasa persaudaraan, telah memunculkan saling kepercayaan di antara anggota, yang semakin mekar ketika kemudian terjadi sharing pengetahuan antar anggota di mailing list dan website maupun pertemuan darat. Kualitas komunikasi antar member begitu bagus dan ini menyatu, tak terpisahkan dengan kualitas komunitas itu sendiri. |
|
Read more...
|
|
|