|

Memasuki sebuah mesjid atau mushollah, biasanya hal pertama yang saya perhatikan adalah lantai dari rumah ibadah itu. Sebagian besar mesjid dengan kategori bangunan kecil, sedang sampai besar memasang karpet di lantai tempat umat islam melakukan ibadah sholat, ada yang menutup seluruh lantai di dalam mesjid, ada yang cuma setengah dan terbanyak cuma memasang karpet 1 sampai 2 shaft terdepan di belakang imam. Ada mesjid yang karpetnya sudah usang termakan usia, ada pula yang masih terlihat baru. Ada yang memasang sepanjang waktu, ada pula yang hanya menggelar di waktu mesjid diperkirakan penuh seperti waktu shalat jum'at dan teraweh di bulan ramadhan. kondisi lantai mesjid sendiri sangat beragam, ada yang cuman semen, ada yang tegel, keramik sampai yang menggunakan lantai dari batu marmer. Apapun bahan lantai yang dipakai, kecendrungan untuk menutupinya dengan karpet tetap terlihat.
Tujuan menutup lantai mesjid dengan karpet tebal berbulu tentu untuk memberikan kesan bersih pada lantai yang dipakai beribadah. tujuan lainnya dari segi estetika walau kadang banyak karpet yang terpasang tidak senada dengan warna dan ornamen di dalam ruang mesjid itu sendiri.
Saya tidak tau tradisi karpet pada mesjid di Indonesia dimulai sejak kapan dan meniru tradisi dari mana. Mungkin dari mesjid-mesjid di arab saudi atau wilayah jasirah arab lainnya, yang jelas telah sejak lama Indonesia meng-import banyak hal dari wilayah arab tanpa memperhitungkan perbedaan kondisi yang melatarbelakangi munculnya sebuah tradisi. |
|
Read more...
|
|
|
Peoples of the border area adalah masyarakat yang terpinggirkan, tapi juga masyarakat yang menjadi tulang punggung perbatasan antar negara. Bergeser tidaknya patok batas antar negara, bertambah atau berkurangnya lahan negara banyak tergantung pada masyarakat yang hidup dan bermukim di border area.
Dilema yang dihadapi masyarakat Indonesia yang hidup di perbatasan jelas memprihatinkan. Letak wilayah kampung mereka yang sangat jauh dari pusat-pusat pertumbuhan regional membuat mereka cenderung terisolasi dari pembangunan infrastruktur maupun ekonomi. Kondisi ini kemudian membuat tingkat kesejahteraan mereka seolah tidak pernah beranjak dari sejak jaman nenek moyang mereka ratusan tahun lalu. Di sisi lain lain, mereka adalah penjaga tapal batas antar negara dan desa mereka adalah buffer zona yang menjadi pagar masuknya para pendatang legal dan ilegal dari negara lain.
Kehidupan mereka yang terpencil dari pusat-pusat peradaban dan pusat pertumbuhan regional, membuat mereka lebih banyak berinteraksi dengan masyarakat dari negara tetangga, terutama untuk hubungan ekonomi. Pada kasus masyarakat yang bermukim di perbatasan Malindo (Malaysia-Indonesia) misalnya, di wilayah Sajingan Besar, Sambas, Kalbar yang berbatasan langsung dengan Biawak, Lundu, Malaysia, jarang dijumpai produk kebutuhan sehari-hari seperti beras dan gula yang berasal dari Indonesia. Masyarakat Sajingan Besar membeli produk-produk tersebut dari Malaysia karena lebih dekat dan lebih mudah mendapatkannya di Biawak ketimbang ke pusat pertumbuhan ekonomi kabupaten yang jaraknya puluhan kali lebih jauh.
|
|
Read more...
|
|
|