Sistem Pengelolaan Fungsi SosialUntuk memahami sistem pengelolaan fungsi sosial dalam konteks P... READMORE... |
Memetik, Memeram dan MenanamPerkembangan Pengetahuan Lokal Nelayan dalam Usaha Konservasi B... READMORE... |
Fungsi Sosial Pada PHPLKepentingan Fungsi Sosial Dalam Kerangka Hutan LestariDalam ker... READMORE... |
Social Forestry, Sebuah RefleksiSepuluh tahun sudah reformasi digulirkan di Indonesia yang meny... READMORE... |
| HTML REPOSITION, FROM COMMUNITY TO SOCIAL NETWORK: Toward a New Paradigm |
![]() TREND SETTER Where's brotherhood has no limit, delapan tahun sudah kalimat itu didengungkan dan menjiwai keberadaan HTML sampai saat ini. Dengan semangat persaudaraan itu pula, HTML telah menjelma menjadi komunitas otomotif roda dua terbesar di Indonesia. Dalam kurun waktu delapan tahun lebih (2000-2009), HTML tumbuh begitu pesat dengan 2.000 anggota bernomor dan mencapai 8.000 anggota subscriber di mailing list utama HTML dan website KHTI, tersebar di 20 wilayah dari ujung Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi sampai ke Pulau Bali dan NTB.
Dari awal berdirinya, HTML sudah menetapkan diri sebagai komunitas murni otomotif berbasis maya, sebuah bentuk yang berbeda dari kumpulan lain saat itu yang umumnya mengambil bentuk sebagai klub berbasis pertemuan darat. Bentuk komunitas memiliki beberapa keunggulan dibanding klub dari sisi percepatan pertumbuhan sebuah organisasi. Komunitas terbangun dari ikatan-ikatan yang secara rumit saling terkait melalui komunikasi, tanpa mempersoalkan bentuk komunikasi tersebut apakah tatap muka atau melalui media seperti internet. Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi komunikasi (mailing list dan website) inilah, HTML dapat dengan leluasa menumbuhkembahkan komunitas tanpa terhalang oleh waktu, ruang dan jarak.
Salah satu komponen pembentuk komunitas adalah ikatan dalam bentuk tujuan, kepercayaan dan pengetahuan. HTML yang dibangun pertama kali berdasarkan persamaan hobby para pendirinya telah memenuhi syarat komponen pembentuknya. Persamaan hobby kemudian berkembang menjadi rasa persaudaraan, telah memunculkan saling kepercayaan di antara anggota, yang semakin mekar ketika kemudian terjadi sharing pengetahuan antar anggota di mailing list dan website maupun pertemuan darat. Kualitas komunikasi antar member begitu bagus dan ini menyatu, tak terpisahkan dengan kualitas komunitas itu sendiri.
Komponen esensial lainnya dalam pembentukan komunitas adalah partisipasi. Dalam partisipasi, setiap individu bekerjasama dan saling memasuki wilayah aktifitas satu dan lainnya, mengambil peran dalam upaya bersama dan kerjasama. Proses inilah yang paling berperan dalam membangun dan mengembangkan komunitas. Tak akan ada sebuah komunitas tanpa komponen partisipasi di dalamnya, bahkan sebuah komunitas yang hancur dapat dipulihkan kembali dengan gagasan-gagasan partisipasi.
Sampai dengan usianya yang ke enam, tingkat partisipasi anggota HTML masih sangat tinggi, baik di dunia maya maupun pertemuan darat, dan menjadi masa-masa keemasan HTML dengan gairah anggota yang begitu tinggi. Kemana dan dimanapun HTML mengadakan event, ratusan anggota berkumpul menutup hijaunya rumput dan hitamnya aspal jalanan dengan dwi warna merah-hitam. Dalam rentang waktu tersebut konsep dan teknik terbaik terkait safety riding dan smart riding dikembangkan dan dimatangkan dengan berbagai pemikiran dan uji coba. Lembaga fungsional (entitas) dibentuk berdasarkan kebutuhan dan bekerja maksimal sesuai bidangnya. Roda ekonomi komunitas berputar melalui pengaturan koperasi. Banyak pihak yang terkait dengan otomotif maupun tidak, menjalin kerjasama, dan pada puncaknya muncul layanan jasa perbengkelan skala besar yang menyandang nama HTML. HTML menjadi trend setter bagi komunitas dan klub otomotif di sekitarnya. Sebuah pencapaian yang tidak dapat disebut kecil dalam kurun waktu singkat di tengah persaingan yang begitu ketat dengan komunitas dan klub otomotif roda dua lainnya.
Lalu apakah pencapaian saat itu dan berlanjut sampai kini telah membuat HTML dapat disebut sebagai komunitas yang mapan? Konsep mapan nampaknya tidak dapat begitu saja dilekatkan pada sebuah kehidupan yang mengalami proses terus menerus, karena konsep mapan cenderung mengarah ke monoton, sementara sifat monoton adalah stagnasi dan berhenti dari proses. Dengan demikian seperti apapun pencapaian HTML, sepanjang sifatnya masih sebagai komunitas yang mengalami pasang surut, maka konsep mapan tidaklah tepat disandangnya.
Setelah masa-masa keemasan sampai dengan tahun 2006, HTML terlihat mulai jenuh dengan dirinya sendiri. Event mulai berkurang, konsep-konsep baru berkaitan dengan keselamatan dan keamanan berkendara tidak lagi nampak, sharing pengetahuan tidak lagi semeriah dulu dan pada akhirnya yang terparah adalah mulai berkurangnya partisipasi anggota di seluruh wilayah HTML. Faktor partisipasi inilah yang kemudian menggerogoti HTML sedikit demi sedikit.
Apa yang harus dipersoalkan dari (jika dapat disebut sebagai) kemandekan HTML ini? Banyak hal, yang pertama adalah sifat komunitas otomotif itu sendiri yang memiliki titik jenuh yang rendah, dalam artian sangat mudah mencapai titik jenuh karena tergantung pada unsur teknologi otomotif yang perkembangannya lambat, khususnya honda-tiger yang menjadi awal mula pengikat kebersamaan anggota. Kedua, titik jenuh pada target komunitas yang telah tercapai. Ketiga, konsep-konsep berkaitan dengan safety riding juga terlihat mencapai puncaknya dan tidak lagi berkembang sepesat beberapa tahun lalu. Keempat, seiring dengan jenuhnya perkembangan otomotif roda dua, event juga menjadi berkurang. Event-event yang diselenggarakan HTML tidak terlepas dan cenderung terikat dengan tiga hal sebelumnya, yang menyebabkannya terperangkap dalam lingkaran yang diciptakannya sendiri, dan kelima, tuntutan keadaan saat ini membuat HTML berada dipersimpangan antara sifatnya sebagai komunitas yang cair, yang telah sukses membesarkannya dan sifat organisasi formal yang cenderung dibutuhkan saat ini. Bertahan sebagai komunitas murni akan membuat HTML tetap dengan segala keterbatasannya saat ini, sementara untuk berkembang menjadi organisasi formal, HTML menghadapi tantangan terutama dari romantisme masa lalu dan belum siapnya sebahagian besar anggota untuk menghadapi kondisi tersebut. Sebuah dilema yang pada akhirnya membuat anggota menunggu yang berefek ke turunnya tingkat partisipasi.
KOMUNITAS MURNI DAN KETERBATASANNYA Apa sebenarnya yang menjadi kekurangan utama komunitas murni? Bagi kumpulan individu di perkotaan dan tersebar di berbagai wilayah, komunitas murni memliki keterbatsan untuk menjaga perilaku anggota dalam kurun waktu lama, khususnya anggota-anggota yang tinggal di perkotaan yang lebih heterogen dan rentan dengan pengaruh eksternal. Agar dapat bertahan lama, komunitas sangat mengandalkan komunikasi tatap muka dan nilai-norma yang menjadi acuan aturan umum untuk diikuti anggotanya. Masalahnya adalah, nilai dan norma acuan tersebut memiliki tingkat abstraksi yang tinggi dan cenderung hanya berada pada tataran ideal tanpa penjelasan rinci, sehingga kadang sulit diaplikasikan oleh anggota-anggota komunitas terutama untuk jangka waktu lama. Selain itu interaksi dunia maya walau dapat membesarkan HTML, tapi tidak dapat mempertahankannya untuk jangka waktu lama, dan dalam hal ini tidak dapat bersaing dengan metode tatap muka secara langsung.
Agar dapat bertahan lama, komunitas murni jelas sangat tergantung pada interaksi tatap muka. Itulah mengapa HTML yang berbasis maya, berkembang sangat pesat ketika dikombinasikan dengan pertemuan darat. Peran interaksi tatap muka tak dapat tergantikan, terutama untuk komunitas lokal, jika pun teknologi informasi (internet) telah masuk begitu jauh dalam kehidupan setiap anggota. Banyak hal menyangkut hubungan interpersonal antar anggota masih memerlukan tatap muka dan tidak tergantikan oleh teknologi informasi tersebut. Teknologi informasi mungkin membentuk masyarakat baru yang dapat bertahan lama, tapi tidak untuk komunitas jangka panjang.
Masalahnya, tatap muka dapat terus terjadi ketika ada penyebab atau kepentingan yang membuat anggota datang dengan sukarela, dan inilah yang berkurang secara drastis di HTML. Dengan demikian seiring melemahnya hubungan komunikasi interpersonal maka kemampuan komunitas untuk melanggengkan dirinya juga berkurang. Hilang atau berkurangnya hubungan interpersonal juga memberi efek bola salju, dimana semakin bertambahnya jumlah anggota akan semakin mengurangi hubungan satu dengan lainnya dibanding ketika jumlah anggota masih sedikit, dan tatkala hubungan interpersonal menurun maka rasa saling percaya satu dengan lainnya berikut perasaan empati lainnya juga ikut melemah. Kondisi inilah yang mulai nampak pada HTML, dengan semakin bertambahnya jumlah anggota, semakin tinggi rasa ketidakpedulian baik ke sesama anggota maupun terhadap ideologi dan aturan komunitas itu sendiri. Semua itu telah membuat HTML memerangkap dirinya sendiri ke lingkaran yang mematikan.
INVOLUSI WILAYAH (KOPYAH) Kekuatan interaksi tatap muka justru terlihat membesar pada wilayah sebagai lingkup terkecil pertemuan darat anggota, yang menjadi lebih aktif ketika HTML secara keseluruhan mengalami titik jenuh. Hal ini tentu disebabkan kuatnya ikatan dan hubungan interpersonal yang terbangun antar anggota wilayah, sebagai konsekuensi komunikasi tatap muka, pertemuan darat rutin mingguan (kopdar) maupun event seperti touring bersama. Melalui komunikasi tatap mukalah integritas orang diuji, rasa percaya dibentuk, dan kontrak sosial dibuat dan dipelihara. Pada wilayah, terjadi pembalikan basis, kopdar menjadi basis utama anggota dan mailing list (ruang maya) menjadi sekunder.
Menguatnya sentimen wilayah akibat interaksi tatap muka member wilayah, sayang sekali menghasilkan involusi (menguat ke dalam), dan kecendrungan ini membuat wilayah semakin terpisah satu dengan lainnya. Mulai terbentuk sifat dimana anggota wilayah hanya menghargai anggota sesama wilayahnya dan tidak acuh dengan anggota dari wilayah lain. Satu hal yang mungkin tak terpikirkan ketika kopdar wilayah dibentuk, adalah bahwa pemisahan wilayah memberi peluang penguatan intoleransi terhadap anggota dan wilayah lainnya. Situasi ini pada akhirnya sekali lagi semakin melemahkan komunitas HTML secara keseluruhan. REPOSISI DAN TRANSFORMASI Demi untuk mengairahkan kembali dan mengembangkan HTML lebih lanjut, hal utama yang harus dipikirkan adalah bagaimana membangkitkan kembali partisipasi anggota, baik yang ada di wilayah maupun HTML secara keseluruhan. Dari sisi bentuk atau sifat komunitas, adalah dengan melakukan reposisi melalui transformasi dari sebuah komunitas murni menjadi komunitas berbasis Social Network, yang sekaligus akan menjembatani antara komunitas murni dan organisasi formal. Di dalam komunitas murni jelas telah terjalin hubungan sosial yang membentuk jaringan sosial di antara anggota yang sekepentingan, namun jaringan sosial ini tidak terperhatikan apalagi terpetakan, tertutup oleh sifat dasar komunitas murni itu sendiri. Saya pikir saatnya kita mengedepankan sisi social network dan mulai sedikit demi sedikit meninggalkan sifat komunitas murni yang terbukti memiliki beberapa kekurangan menghadapi tuntutan jaman dan anggota, khususnya bagi kumpulan otomotif. Tidaklah sulit bagi HTML beralih ke komunitas yang berbasis pada social network, segala perangkat yang dibutuhkan telah tersedia dan berjalan, hanya perlu mengubah sedikit setting komunitas untuk memuluskan perpindahan. Jelas bahwa kondisi kekinian HTML memerlukan perubahan untuk dapat terus eksis. Perubahan sendiri bukanlah sesuatu yang harus ditakuti karena perubahan merupakan oposisi yang saling melengkapi dan merupakan kontinuitas dari eksistensi suatu tatanan atau keteraturan. Dengan demikian pemulihan komunitas HTML dengan reposisi ke bentuk yang berbasis social network menjadi penting.
Social Network adalah jaringan tipe khusus, dimana ikatan yang menghubungkan titik-titik dalam jaringan adalah hubungan sosial, dan yang menjadi anggota jaringan adalah manusia (person). Bila ditarik lebih jauh maka anggota jaringan bisa berupa kumpulan orang yang mewakili titik, atau juga organisasi atau negara yang mewakili setiap titik.
Hubungan sosial merupakan interaksi sosial yang berkelanjutan (lama atau permanen) dan membuatnya saling terikat satu sama lain oleh seperangkat harapan yang relatif stabil. Hubungan sosial dapat dipandang sebagai jalur atau saluran yang menghubungkan satu orang dengan orang lainnya, dimana saluran tersebut bisa dialiri sesuatu seperti barang, jasa atau informasi. Hubungan sosial mencerminkan adanya pengharapan peran dari masing-masing lawan interaksi, tingkah laku yang diwujudkan dalam interaksi bersifat sistematik, ada pengulangan untuk hal yang sama dan dalam situasi yang sama, ada keteraturan.
Secara lebih detail, agar dapat disebut sebagai social network, ada komponen tertentu yang menjadi persyaratan yang harus dipenuhi yaitu:
Setelah komponen-komponen tersebut di atas terpenuhi maka infrastruktur sebuah social network telah lengkap. Agar dapat berjalan dan bekerja dengan baik, semua komponen harus memiliki dasar prinsip yaitu:
Sementara itu berdasarkan kepentingannya, isi social network dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu:
Berdasarkan komponen, dasar prinsip dan jenis social network tersebut di atas, kita mencoba menempatkan komunitas HTML di dalamnya dan melihat kelayakannya untuk dapat melakukan tranformasi menjadi komunitas berbasis social network. Di dalam HTML terdapat sejumlah besar anggota yang mewakili person/node/titik dan berfungsi sebagai terminal yang saling terhubung satu dengan lainnya dan membentuk sebuah ikatan. HTML memiliki 8.000 anggota yang terhubung melalui mailing list dan website, dan setidaknya 2.000 di antaranya pernah bertatap muka secara langsung. Selain anggota individual, HTML juga memiliki wilayah-wilayah yang menjadi tempat berkumpulnya anggota HTML pada waktu tertentu, yang juga terhubung satu dengan lainnya dan juga membentuk ikatan. Jika ditarik lebih ke atas, HTML juga merupakan satu node/titik terhadap sekumpulan node lain (komunitas dan klub otomotif roda dua), dan bisa menjalin interaksi atau membentuk ikatan dengan node tersebut secara bolak balik.
Ikatan-ikatan yang terbentuk di antara anggota-anggota HTML memiliki isi yang mengalir di dalamnya. Secara umum seluruh anggota HTML memahami arti kalimat brotherhood has no limit yang sangat bermuatan emosional, dan rasa persaudaraan inilah yang menjadi isi dari ikatan yang ada. Namun selain ikatan emosional tersebut, terdapat anggota tertentu yang terikat hubungan kepentingan dengan member lain, misalnya hubungan perdagangan. Di dalam HTML juga terdapat struktur kepengurusan mulai dari tingkat atas (Board of Sarasehan), Koordinator Wilayah sampai ke kepengurusan tingkat wilayah dan anggota biasa. Jalinan hubungan ini selain bermuatan emosional juga berisi muatan power.
Sementara itu, wilayah-wilayah yang menjadi lokasi kopdar anggota HTML wilayah, juga saling terhubung satu dengan lainnya. Isi dari hubungan tersebut adalah hubungan emosional, bergantian atau tumpang tindih dengan muatan kepentingan. Hubungan antara HTML sebagai satu titik dengan titik-titik lainnya (komunitas dan klub roda dua lainnya) nampaknya harus dibangun lebih intensif agar tercipta ikatan, yang kemungkinannya akan lebih banyak bermuatan kepentingan dan power ketimbang emosi. Gambar di bawah ini memperlihatkan anggota, wilayah dan komunitas/klub yang saling terhubung dalam social network. Isi atau muatan yang mengalir melalui ikatan dari satu anggota ke anggota lainnya di dalam HTML memiliki pola tertentu. Tidak semua anggota terikat atau mengikatkan diri dengan anggota lainnya. Setiap anggota memilih dengan siapa dia hendak berhubungan secara relatif permanen, secara emosional atau berdasarkan kepentingan tertentu. Contoh sederhana dapat dilihat saat ini banyak anggota lebih nyaman berhubungan dengan anggota lainnya dari wilayah kopdar yang sama ketimbang dari wilayah lain, dan saling mengetahui hak dan kewajiban dari hubungan yang terjalin. Selain wilayah, anggota-anggota yang terdapat di dalam entitas juga berhubungan lebih akrab ketimbang dengan anggota di luar lembaga fungsional tersebut, selain lembaga entitas itu sendiri yang saling berhubungan. Fenomena ini membuat kita dapat memetakan rangkaian titik yang membentuk satu kesatuan dengan rangkaian titik lain yang membentuk kesatuan lainnya, seperti terlihat pada gambar di bawah ini. Overlay komunitas HTML di atas tatanan social network telah memperlihatkan bahwa HTML dapat melakukan transformasi dengan mudah ke komunitas berbasis social network. Untuk memudahkannya, hal pertama yang harus dilakukan adalah pembenahan pada infrastruktur website. Keseluruhan fungsi dan tentu tampilan website demi mengakomodasi berjalannya sistem social network. Pentingnya pembenahan website disebabkan website akan menjadi media utama interaksi sosial antar anggota hingga antar komunitas, dengan beragam hubungan dan kepentingan.
Melalui infrastruktur website yang baru, hubungan-hubungan yang terjadi antar titik seperti yang digambarkan di atas akan dengan mudah terpetakan. Pemetaan ini sangat penting bagi HTML untuk melihat kecendrungan hubungan anggotanya, tingkat partisipasi setiap anggota dalam rangka mewujudkan tujuan komunitas, dan melihat jenis hubungan sosial yang umum diaktifkan dalam rangka pencapaian kepentingan. Dengan itu semua HTML dapat melakukan sistem kontrol, monitoring dan koordinasi terhadap semua anggota komunitas, dan melihat kecendrungan peningkatan hubungan dengan komunitas/klub otomotif roda dua lainnya. Pengetahuan tentang kecendrungan anggota dan komunitas/klub lain dapat juga digunakan untuk menentukan event (kegiatan) yang tepat agar anggota dapat berkumpul dan berpartisipasi kembali. Kesuksesan membangun social network di dunia maya akan berimplikasi positif terhadap kesuksesan komunitas di darat, dan kesuksesan di darat akan memberi masukan untuk semakin meningkatkan sistem social network.
Dengan reposisi melalui transformasi ke komunitas berbasis social network, HTML dapat memahami dual rasionalitas yang selalu ada dalam setiap komunitas dan organisasi. Dual rasionalitas adalah adanya rasionalitas individu (sebagai anggota komunitas) yang bisa sejalan tapi kadang berbeda dengan rasionalitas komunitas. setiap rasionalitas ditentukan oleh tujuan masing-masing. Rasionalitas individu/anggota yang tidak sejalan dengan rasionalitas komunitas menjadi masalah tersendiri bagi komunitas dan menghasilkan out of order in order.
Dengan transformasi ke komunitas berbasis social network, HTML akan fokus pada ikatan individu atau unit sosial dalam komunitas yang riel dan tidak sekedar pada kualitas umum yang kadang semu dan menjebak. Fokus tersebut akan membawa HTML memahami kompleksitas struktur dan perilaku dalam komunitas. Selain itu HTML dapat memahami konflik, perubahan dan pengendalian dalam komunitas, dan akhirnya juga dapat melihat bagaimana dan mengapa aturan formal komunitas tidak berlaku sepenuhnya dalam kehidupan sehari-sehari anggota |
