Sistem Pengelolaan Fungsi SosialUntuk memahami sistem pengelolaan fungsi sosial dalam konteks PH... READMORE... |
Memetik, Memeram dan MenanamPerkembangan Pengetahuan Lokal Nelayan dalam Usaha Konservasi Ba... READMORE... |
Fungsi Sosial Pada PHPLKepentingan Fungsi Sosial Dalam Kerangka Hutan LestariDalam kera... READMORE... |
Social Forestry, Sebuah RefleksiSepuluh tahun sudah reformasi digulirkan di Indonesia yang menye... READMORE... |
| Semua Bermula dari Adaptasi |
Judul: Rahasia Sukses Skenario Film-film Box Office Judul Asli: How to Adapt Anything into to Screenplay Penulis: Richard Krevolin Penerjemah: Ibnu Setiawan Penyunting: Haris Priyatna & Rika Iffati Farihah Penerbit: Kaifa, PT Mizan Pustaka Cetakan: Pertama, Oktober 2003 Tebal: xxx + 307 SEBAGAI novelis, YB Mangunwijaya pernah kecewa karena film yang dibuat berdasarkan karyanya, Roro Mendut, tak sesuai dengan gambaran yang dia angankan. Ahmad Tohari mengalami kekecewaan serupa saat Ronggeng Dukuh Paruk diangkat ke layar lebar. Ditambah kasus film Ca Bau Kan yang tampak "agak melenceng" dari novel dengan judul yang sama karya Remy Sylado, orang pun berkesimpulan, selalu ada kesenjangan antara sastra dan film. Pertanyaan yang kemudian mengemuka, seberapa setiakah mestinya sebuah skenario (materi utama film) terhadap karya asli yang diadaptasi? Lewat buku ini, Richard Krevolin menjawab pertanyaan tersebut dengan sangat tegas. Sebenarnya, tulis pakar penulisan skenario dari UCLA Amerika Serikat itu, adaptor (penulis skenario adaptasi) tak berutang sedikit pun terhadap karya asli. Meski begitu, ini catatan khusus, boleh saja adaptor mengambil jalan setia karena pertimbangan pasar dan sebagainya seperti adaptasi terhadap buku Harry Potter. Penulis skenario, katanya, dapat menggabungkan beberapa tokoh, menghapus seluruh bagian, menambahkan beberapa adegan, mengubah waktu, tanggal, dan tempat. Karena itu dia menyarankan, lakukan apa saja yang perlu dilakukan untuk membuat skenario bermutu. Kalau ada bagian yang akan menghasilkan cerita bagus, harus dipertahankan. Kalau tidak, harus disingkirkan. Terdengar sangat ekstrem memang, tapi ternyata begitulah yang terjadi di dunia perfilman, terutama Hollywood. Dalam kalimat lain bisa dikatakan, teks (cerita) dan film adalah dua karya berbeda. Banyak bagian dalam novel yang enak dibaca dan berpengaruh pada jiwa pembaca, namun bisa sangat mustahil dan tidak menguntungkan untuk diubah ke dalam bahasa gambar. Di situlah "insting" penulis skenario berperan. Di situ pula awal mula perombakan yang kadang mengecewakan sang pengarang. Berangkat dari aturan utama tersebut, Richard Krevolin menawarkan "jalan termudah" menulis skenario adaptasi. Kenapa adaptasi? Begitu mendengar kata skenario, banyak orang memang akan berpikir atau minimal membayangkan susunan adegan yang diangkat dari cerita fiksi. Padahal, skenario bisa ditulis berdasarkan apa saja. Dari puisi, cerpen, novel, komik, catatan sejarah, laporan jurnalistik, laporan ilmiah yang bikin mumet kepala, sampai relief di dinding-dinding candi. Dan kenyataannya, sebagian besar skenario (terutama yang berjaya di daftar film terlaris serta ajang kompetisi Golden Globe dan Academy Awards) merupakan karya adaptasi. Richard malah yakin bahwa semua bermula dari adaptasi. Berdasarkan pengetahuan serta pengalaman sebagai penulis dan dosen, dia menyusun lima langkah jitu mengadaptasi apa pun menjadi skenario jempolan. Skenario yang bagus dan laku. "Saya telah menggunakan proses lima langkah ini dengan ribuan novelis, penulis cerpen, penulis drama, penyair, jurnalis, dan calon penulis dalam seminar di seluruh penjuru negeri dan di kelas saya di sekolah film USC dan UCLA. Berkali-kali saya melihat betapa proses lima langkah ini bisa membantu secara menakjubkan..." kata Richard. Gaya Hollywood Langkah pertama: mencari satu kata yang mewakili tema skenario, cinta misalnya, dan menjadikannya titik tolak untuk "menyapu" bagian-bagian yang tak relevan hingga penulisan tetap fokus. Langkah kedua: membuat logline, yaitu kalimat tunggal yang menggambarkan jenis dan plot film. Ini semacam reduksi seluruh cerita menjadi satu kalimat. Film American Beauty, misalnya, direduksi menjadi "seorang pria separuh baya yang berusaha menanamkan pesona pada teman cantik anak perempuannya". Langkah ketiga: menjawab tujuh pertanyaan pokok, yaitu (1) siapakah tokoh utama, (2) apa yang diinginkan/dibutuhkan/ didambakan tokoh utama, (3) siapa/apa yang terus menghalanginya untuk mendapatkan keinginan, (4) bagaimana dia mencapai keinginan itu dengan cara yang luar bisa, menarik dan unik, (5) apa yang Anda ingin sampaikan dengan mengakhiri cerita seperti itu, (6) bagaimana Anda mengisahkan cerita, dan (7) bagaimana tokoh utama dan tokoh pendukung mengalami perubahan dalam cerita. Langkah keempat: membuat scene-o-gram, yaitu diagram yang memetakan seluruh perjalanan cerita dalam satu halaman, dari awal cerita sampai klimaks, bahkan juga tema dan titik balik. Langkah kelima: menulis ikhtisar tahap-tahap cerita pada kartu-kartu untuk memudahkan pengisian adegan demi adegan. Tentu saja Richard menerangkan lima langkah itu secara panjang lebar, berikut contoh-contoh "hasil kerja" yang memudahkan pemahaman, termasuk menyebut film-film yang mendukung penjelasan. Dalam uraian itu pula dia mengungkapkan bahwa resepnya memang didasarkan pada (skenario) film-film mainstream Hollywood. Film yang selalu terbagi dalam tiga babak, yakni babak pengenalan tokoh dan masalah, babak perumitan persoalan dan halangan-halangan, serta babak penyelesain masalah. Gaya lain Hollywood yang dia masukkan dalam langkah-langkah itu adalah tokoh utama (protagonis) cerita harus satu orang. Beri dia kemampuan sekaligus penderitaan yang besar. Hadapkan dia pada tokoh antagonis sejahat setan yang berkemampuan sepadan, bahkan kalau perlu lebih sakti. Studi Kasus Buku ini memang lumayan tebal, namun tak usah khawatir bakal tercekoki teori. Richard Krevolin yang telah menghasilkan buku laris Screenwriting from the Soul hanya butuh kurang dari sepertiga buku untuk memaparkan teori. Selebihnya adalah "praktik": studi kasus terhadap berbagai film yang dibuat berdasarkan skenario adaptasi. Saat membedah film itu, dia menerangkan ulang semua yang telah dia paparkan. Yang membuat studi kasus itu menarik, film-film yang dia bahas diadaptasi dari bahan yang berbeda, yaitu novel (Harry Potter and the Sorcerer's Stone dan Shiloh), novela atau semacam novel pendek (The Shawshank Redemtion), cerpen (Rashomon), biografi (The Patriot), karya legendaris (O Brother, Where Art Thou?), berita (Madison), drama (Glengarry Glenross), dan komik (X-Men). Dia membedah film-film itu (kecuali Rashomon karya Akira Kurosawa yang memang tak mengikuti gaya Hollywood) dengan tujuh pertanyaan pokok dan memetakan keseluruhan isi cerita dalam scene-o-gram. Hasilnya, kita bisa melihat bagaimana penulis skenario bekerja. Membaca studi kasus itu kian menarik jika kita bisa mencocokkan langsung dengan filmnya. Baca nonton atau nonton baca akan membuat kita lebih paham. Buku ini juga punya nilai lebih dari sisi tuturan. Richard Krevolin menerangkan seluruh langkah yang rumit dan sebenarnya membutuhkan kerja keras itu dengan gaya dosen-santai berbicara di depan kelas. Sesekali dia menyapa, menyuruh berhenti (membaca), serta melemparkan humor-humor cerdas dan segar. Ah ya, sebagai pelengkap, dia sisipkan juga bab tentang masalah-masalah hukum dalam adaptasi, saran-saran tokoh penting Hollywood, dan contoh skenario. Komplet deh! (Budi Maryono-72) |
Judul: Rahasia Sukses Skenario Film-film Box Office