Sistem Pengelolaan Fungsi SosialUntuk memahami sistem pengelolaan fungsi sosial dalam konteks PH... READMORE... |
Memetik, Memeram dan MenanamPerkembangan Pengetahuan Lokal Nelayan dalam Usaha Konservasi Ba... READMORE... |
Fungsi Sosial Pada PHPLKepentingan Fungsi Sosial Dalam Kerangka Hutan LestariDalam kera... READMORE... |
Social Forestry, Sebuah RefleksiSepuluh tahun sudah reformasi digulirkan di Indonesia yang menye... READMORE... |
| Memetik, Memeram dan Menanam |
|
Pengetahuan lokal masyarakat (indigenous knowledge) telah lama terbukti cocok sebagai landasan, khususnya dalam pengelolaan sumberdaya alam secara berkelanjutan (sustainability). Pengetahuan lokal ini tidak dapat dilepaskan dengan kondisi lingkungan fisik dan sosial budaya dimana masyarakat tersebut hidup dan bertempat tinggal, karena pengetahuan tersebut secara rinci mengatur segala bentuk perilaku dan interaksi masyarakat dengan lingkungan fisik mereka, dalam rangka pengelolaan sumberdaya alam untuk kelangsungan kehidupan, selain juga mengatur perilaku dalam berinteraksi dengan sesama manusia dalam lingkungan pergaulan sosial. Melalui interaksi jangka panjang, lahir gambaran atau citra lingkungan, bagaimana orang-orang dalam masyarakat memandang lingkungannya, dan di dalam citra lingkungan ini terdapat perangkat-perangkat pengetahuan yang mempengaruhi tindakannya dalam memperlakukan lingkungan. Melalui citra lingkungan pula masyarakat melahirkan praktek-praktek pengelolaan sumberdaya alam yang pada gilirannya akan membentuk kearifan ekologi (ecological wisdom) mereka, yang merupakan bentuk adaptasi budaya manusia (Soemarwoto, 1978 dalam Salamun, 1994). Walaupun tidak selalu sejalan dengan prinsip pengetahuan ilmiah, pengetahuan lokal masyarakat termasuk rinci dan kaya karena muncul dan terbentuk secara langsung dari bermacam-macam pengalaman yang dialami oleh penduduk setempat. Oleh karena itu tidaklah mengherankan bila pengetahuan lokal masyarakat memiliki kemampuan yang lebih baik untuk menilai faktor-faktor resiko khususnya yang menyangkut keputusan-keputusan produksi terutama di tingkat lokal (Richard, 1994 dalam Winarto, 1998:53). Faktor utama terbentuknya pengetahuan lokal ini adalah kepentingan dan kegunaan pengetahuan itu sendiri. Kebanyakan pengetahuan lokal muncul berdasarkan pengamatan akan suatu benda dan fenomena oleh penduduk. Fokus pengamatan ditentukan oleh seberapa penting hal tersebut menyangkut kepentingan hidup penduduk berdasarkan acuan budaya setempat (lihat juga Winarto, 1998:54). Pentingnya pengetahuan lokal ini telah banyak ditulis oleh para ahli. Keberhasilan keberlanjutan proyek irigasi skala besar di Peru dan Mexico misalnya, dikarenakan diikutsertakannya para petani menjadi pengelola proyek tersebut, yang mengetahui dengan baik bagaimana sistem distribusi air harus diatur berdasarkan musim, kenyataan fisik, ekonomi dan lingkungan sosial budaya masyarakat dimana sistem tersebut berada (Ostrom, 1992). Perubahan jaman juga menuntut berkembangnya pengetahuan lokal sesuai kebutuhan keadaan. Melalui percobaan yang terus menerus sepanjang masa, pengetahuan lokal berkembang menjadi lebih baik dan lebih kaya. Untuk menghadapi perubahan yang terjadi, penduduk menciptakan solusi-solusi guna menghadapi tantangan yang muncul sebagai konsekwensi dari perubahan tersebut. Mayoritas penduduk Tongke-tongke yang berjumlah 1.809 pada tahun 1999, adalah suku Bugis yang terbagi dalam kategori penduduk asli dan penduduk pendatang yang tersebar di lima kampung dalam wilayah lingkungan Tongke-tongke. Penduduk asli menempati kampung Bentenge, Lombok dan Borong Uttie, bekerja sebagai petani sawah dan kebun, sementara penduduk pendatang yang merupakan suku Bugis keturunan Bajo yang bermigrasi ke wilayah ini sekitar tahun 1930, menempati kampung Babana dan Cempae yang terletak di bagian pesisir pantai. Pekerjaan utama penduduk pendatang ini adalah nelayan yang mencari hasil laut mulai dari sekitar teluk Bone sampai ke perairan Australia. Beberapa penduduk pendatang dari Jawa dan Madura juga ada di Tongke-tongke, yang datang untuk bekerja maupun karena perkawinan dengan penduduk lokal. Fokus penelitian yang dilakukan dipusatkan pada dua kampung pesisir Babana dan Cempae, karena di dua kampung inilah bermukim nelayan-nelayan yang melakukan usaha konservasi secara swadaya dengan penanaman bakau hingga terbentuknya hutan mangrove seperti sekarang ini. Konservasi bakau di Tongke-tongke telah menarik perhatian banyak kalangan untuk mempelajarinya, karena di tengah kondisi rusaknya sebagian besar hutan mangrove di Sulawesi Selatan dan Indonesia umumnya, akibat dikonversi menjadi tambak ikan dan udang, dan banyaknya kegagalan program penanaman kembali (Nurkin 1995; Lucas …), penduduk wilayah ini justru berhasil menumbuhkan kembali hutan mangrove tanpa banyak campur tangan pihak luar. Para ahli mencoba menemukan sebab-sebab dibalik keberhasilan ini, baik menyangkut aspek teknis maupun non teknis, misalnya bagaimana model pengelolaan hutan bakau yang mereka jalankan (Nurdin 1995), menelusuri tingkat pemahaman dan partisipasi penduduk dalam usaha pelestarian (Jamal 1998), sampai kepada faktor-faktor sosial budaya yang mempengaruhi keberhasilan penanaman (Gala 1999; Prioharyono et.al, 2000). Pengetahuan yang dimiliki nelayan Tongke-tongke sendiri merupakan faktor penting dalam hubungannya dengan konservasi dan menarik untuk dikaji. Bagaimana tuntutan alam memaksa mereka untuk belajar dan mengembangkan pengetahuan terus menerus bila ingin usaha yang mereka lakukan berhasil. Untuk mengatasi hal itu sebenarnya kelompok nelayan ini dapat saja berpindah ke lokasi lain, namun hal tersebut tidak mudah dilakukan karena yang pertama wilayah sekitar telah ditempati oleh kelompok penduduk lain yang bekerja sebagai petani dan peladang, kedua sebagai nelayan mereka tidak bisa tinggal jauh dari pantai sebab harus mengawasi perahu-perahu mereka setiap saat bila tidak ingin dicuri atau terbawa ombak, dan ketiga sebagai nelayan mereka harus tinggal dekat dengan laut yang merupakan tempat mereka mencari nafkah. Atas pertimbangan ini, mereka terpaksa mencari solusi untuk memecahkan masalah abrasi yang terjadi. Sebagai nelayan, maka pengetahuan yang dimiliki oleh orang-orang dalam masyarakat ini tidak bergeser jauh dari ‘dunia’ kenelayanan, laut dan pantai. Dalam usaha penyelamatan perkampungan mereka, beberapa orang mulai memikirkan cara yang cocok dikembangkan untuk menahan laju abrasi, dan berdasarkan pengalaman dan pengamatan di tempat lain selama melakukan pelayaran, mereka melihat bahwa pantai yang ditumbuhi dengan pohon-pohon mangrove dapat selamat dari abrasi. Oleh karena itu mereka pun mencoba cara ini setelah beberapa cara sebelumnya mengalami kegagalan (cara sebelumnya yang mereka lakukan adalah dengan membentengi daerah pantai dengan batu karang yang diambil secara bergotong royong dari laut). Penanaman bibit, belajar dari kegagalan Walaupun dapat diamati, bentuk yang mirip (walaupun ukuran panjangnya berbeda) dari kedua bentuk buah ini menyulitkan nelayan untuk membedakannya dan menggolongkannya menjadi satu. Hal ini sebenarnya tidak mengherankan karena pengetahuan lokal penduduk juga memiliki keterbatasan dalam hal detail dan ini membuat penduduk tidak memiliki pengetahuan menyeluruh tentang lingkungan hidupnya. Chambers (1991 dalam Bentley, 1992 dalam Winarto, 1998: 54) menegaskan kembali hal ini bahwa tidak semua penduduk lokal mengetahui apa yang diketahui oleh para ilmuan dan demikian pula sebaliknya tidak semua ilmuan mengetahui apa yang diketahui penduduk lokal. Pada awalnya, bibit buah yang diambil dari pohon induk langsung mereka tanam dengan jarak 1 kali 1 meter, namun cara tanam seperti ini ternyata membuat banyak bibit mati dimakan tiram atau hilang terbawa ombak. Setelah mereka mengamati bibit-bibit yang mati tersebut dan membandingkannya dengan bibit yang dapat tetap tumbuh, mereka melihat bahwa tiram lebih banyak menempel pada bibit yang mengeluarkan banyak getah dan getah ini banyak terdapat pada bibit buah yang baru diambil dari pohon induknya. Berbeda dengan bibit yang telah dibiarkan beberapa hari di darat sebelum ditanam, yang hanya mengeluarkan sedikit getah dan tidak terlalu diminati oleh tiram. Dengan pengalaman tersebut maka pada penanaman selanjutnya bibit tidak lagi langsung ditanam setelah diambil dari pohon tetapi disimpan terlebih dahulu sampai bibit-bibit tersebut agak kering yang memakan waktu 7 sampai 10 hari sebelum ditancapkan. Pada proses pemeraman bibit-bibit ini, nelayan juga memperhatikan bahwa akar-akar halus dari bibit juga mulai keluar, namun akar-akar ini harus dibersihkan sebelum bibit ditanam karena bila bibit ditancapkan bersama akarnya, hanya akan membuat pohon mati karena pembusukan akar. Lagi pula berdasarkan pengalaman mereka, bagaimanapun bibit tetap akan mengeluarkan akar baru setelah berada dalam tanah. Belajar dari banyaknya bibit bakau yang hilang terbawa ombak membuat jarak tanam antar bibit diperpendek menjadi 75 kali 75 cm, dan kemudian diperpendek lagi menjadi 50 kali 50 cm, dengan pemikiran bahwa apabila ombak datang menghantam, bibit tidak mudah tercabut lepas karena akan tertahan oleh bibit-bibit lainnya yang tumbuh rapat. Selain itu bila bibit-bibit telah tumbuh menjadi tanaman bakau dewasa akan cepat dapat menahan hantaman ombak karena kerapatan batang dan akarnya. Cara penanaman seperti ini kemudian terbukti mampu membuat bibit bertahan dari gempuran ombak dan dapat terus tumbuh. Usaha-usaha introdusir pengetahuan baru mulai dilakukan oleh para penyuluh kecamatan dan kabupaten dan Dinas PKT, yang mulai ikut terlibat usaha konservasi setelah banyak dari pohon-pohon bakau yang ditanam penduduk tumbuh besar. Salah satu hal adalah dianjurkannya para nelayan untuk menanam bibit terlebih dahulu di dalam kantong plastik (polybag). Namun cara ini tidak dapat diikuti oleh para nelayan karena memerlukan biaya yang mahal dan menghabiskan banyak waktu. Nelayan mengetahui bahwa pertumbuhan bibit yang ditanam langsung sama saja dengan bibit melalui polybag, oleh karena itu mereka tidak dapat mengerti mengapa harus mengeluarkan biaya untuk membeli kantong plastik dan menghabiskan waktu menanam bibit ke dalam kantong sebelum dipindahkan ke lahan, jika hasil yang didapatkan tidak berbeda. Selain itu sebagai nelayan, kehidupan ekonomi mereka terbatas, dan tidak ada alokasi anggaran untuk hal lain di luar biaya hidup. Memang penanaman melalui pembibitan dengan polybag tidaklah diperlukan di tempat dimana bibit setiap saat dapat diperoleh dengan mudah seperti Tongke-tongke dan desa sekitarnya. Polybag hanya cocok bila bibit yang tersedia tidak banyak (Khazali, 1999:7). Lokasi tempat tinggal nelayan di pinggir pantai yang berlumpur dan berpasir membuat mereka mengetahui dengan baik struktur tanah dan kedalaman lumpur di tempat mereka. Atas dasar pengetahuan ini, bibit ditancapkan hanya sebatas kedalaman lumpur sekitar 25 cm atau 1/3 dari panjang keseluruhan bibit bakau. Dengan kedalaman seperti ini, ujung bawah bibit tempat tumbuhnya akar telah menyentuh tanah keras di bawah lapisan lumpur. Hal ini akan menguntungkan sebab akar yang keluar akan langsung berpegang pada tanah yang keras dan bukan pada lumpur yang lembek. Pegangan akar pada tanah yang keras membuat bibit semakin kokoh menahan ombak. Wilayah penanaman yang diperluas terus menerus memunculkan pengetahuan baru bagi penduduk tentang struktur tanah yang paling cocok untuk tumbuhnya bakau. Tidak semua wilayah pesisir yang ditanami terdiri dari lumpur, sebagian kecil adalah pasir yang keras dengan sedikit lumpur. Struktur tanah yang paling cocok untuk menumbuhkan bakau menurut pengetahuan penduduk adalah tanah dengan perbandingan 75% lumpur dan 25% pasir. Selain itu dengan perbandingan struktur tanah seperti ini, penancapan bibit mudah dilakukan. Berbeda bila menghadapi tanah yang keras, maka kreativitas penduduk diuji untuk menemukan cara-cara baru mempermudah penanaman. Penekanan masalah kreativitas dari penduduk lokal yang merupakan pencipta solusi dari berbagai tantangan yang mereka hadapi telah ditulis oleh Rhoades dan Bebbington, 1995; Arce dan Long, 1992 dalam Winarto, 1998). Untuk melakukan penanaman di lahan yang keras, dilakukan dengan terlebih dahulu membuat lubang dengan kayu dan kemudian memasukkan bibit ke dalamnya. Untuk struktur tanah yang sangat berlumpur yang menyulitkan untuk melangkah melakukan penanaman, dilakukan dengan menggunakan dua bilah papan sebagai pijakan. Kreativitas yang dimiliki beberapa penduduk kadang membuat mereka melakukan uji coba terus menerus dan membuat pengetahuan tentang proses pertumbuhan tanaman bakau ikut berkembang. Salah satu bentuk uji coba tersebut adalah dengan mematahkan bibit bakau menjadi 2 bagian kemudian menanam kedua potongan ini dengan bagian lancip berada di bawah. Kedua ujung bibit bakau memang berbentuk lancip sehingga susah membedakan bagian atas dan bawah. Hal ini sebenarnya tidak menjadi masalah karena bagian manapun yang ditanam tetap akan tumbuh. Kedua ujung bibit yang lancip inilah yang sebenarnya memancing keingintahuan penduduk sehingga mencoba mematahkan bibit dan menanamnya. Kedua potongan bibit ini tetap dapat tumbuh walau memakan waktu 2 kali lebih lama dibanding bibit yang tidak dipatahkan. Menurut beberapa penduduk, cara seperti ini dapat diterapkan bila kekurangan bibit. Dalam proses pertumbuhannya, bibit bakau akan mengeluarkan daun setelah sebulan penanaman dan setiap bulan berikutnya akan mengeluarkan 1 daun. Penanaman bibit bakau dilakukan pada musim Barat antara bulan September sampai bulan Februari, karena pada musim Barat, angin dan ombak di teluk Bone cukup tenang, sehingga ketika musim Timur datang yang membawa angin dan ombak besar, bibit-bibit bakau yang telah ditanam diharapkan telah dapat bertahan. Selain itu pada bulan-bulan ini bertepatan dengan telah matangnya bibit di pohon dan siap untuk dipetik dan ditanam. Tanda-tanda datangnya musim Barat diketahui dengan munculnya awan hitam dan hujan di sebelah Barat yang biasanya terjadi di sore hari, orong porong (tujuh bintang yang berjejer berdekatan di langit) jika nampak akan tenggelam di sebelah barat. Antara bulan Oktober sampai bulan November ada masa teduh dan memasuki bulan Desember terjadi petir (guntur) yang menggelegar diikuti kilatan cahaya di langit. Ombak di laut tidak besar, bintang tidak nampak pada malam hari karena tertutup awan dan arus di laut datangnya dari arah barat. Pada musim Barat terdapat bulan-bulan tertentu dimana angin bertiup lebih kencang dari bulan-bulan lainnya yaitu sekitar bulan Januari dan Februari yang menurut nelayan disebabkan karena adanya pergantian tahun. Memasuki pergantian musim Barat ke musim Timur ditandai dengan waktu teduh sekitar bulan Maret dan April. Pada bulan ini cuaca lebih teduh, tidak terlalu panas, tidak ada hujan dan angin berhembus perlahan. Fenomena alam ini juga terjadi ketika pergantian dari musim Timur ke musim Barat. Pada musim Timur penanaman tidak dilakukan karena ombak keras dan angin kencang di wilayah teluk Bone. Datangnya musim Timur ditandai dengan kumpulan awan yang berada di sebelah timur, terjadi kilat diikuti guntur menggelegar dari utara yang juga menandakan angin yang akan datang dari utara, air laut keruh disebabkan pergolakan di dasar laut karena pertemuan air dari sungai dengan gelombang laut, bulan terletak miring di Utara atau Selatan, orong porong terlihat pada pukul 19.00 atau pukul 7.00, tiga bintang di langit yang disebut manu (ayam), antara bintang yang terletak di tengah dengan bintang yang terletak di Utara mempunyai jarak yang lebih lebar dibanding antara bintang di tengah dengan bintang yang terletak di Selatan. Bintang ini biasanya muncul pada bulan Juni, dan bagi petani ada kepercayaan bila bintang ini muncul bersamaan dengan bertunasnya padi, maka padi tidak akan berisi. Fenomena ini dalam bahasa Bugis disebut napittoi manue (berarti di patok ayam, padi yang telah dipatok ayam sehingga tidak berisi lagi). Pada musim Timur juga muncul banyak hama di laut yang disebut la’latan yang bentuknya bulat telur dan mempunyai anggota badan berbentuk layar di bagian atasnya dan berbentuk jangkar di bagian bawahnya. La’latan ini sangat berbisa dan bila mengenai tubuh manusia akan menimbulkan gatal sehari semalam dan bahkan bisa mematikan. Hama lainnya disebut kate’ kate’ (penyakit gatal) yang bentuknya seperti pasir berwarna kuning. Bila mengenai tubuh manusia akan menyebabkan gatal selama 1 sampai 2 jam. Selain itu juga terdapat hama yang disebut ko’ kohon yang berbentuk bulat setengah lingkaran dan juga menyebabkan gatal walau tidak mematikan. Menurut informasi, ko’ kohon ini mempunyai nilai jual namun tidak diketahui digunakan untuk apa. Di musim Barat, penanaman bibit dilakukan pada jam-jam tertentu ketika air laut surut di siang hari agar mudah menancapkan bibit langsung ke lumpur. Pasang surut air laut tidak sama setiap harinya. Pada awal bulan, air laut surut lebih pagi antara pukul 4 atau pukul 5 pagi dan akan pasang kembali sekitar pukul 10 atau pukul 11 siang. Air laut akan kembali surut di sore hari pukul 16 dan pasang kembali terjadi pukul 20 malam. Di akhir bulan, air laut akan surut pada pukul 7 atau 8 pagi dan akan pasang pukul 12 atau 13 siang. Pada sore harinya, akan surut pukul 17, lalu pasang pada pukul 3 atau 4 pagi. Cara lain mengetahui pasang surutnya air laut selain melihat jam adalah dengan melihat bulan. Bila bulan telah muncul di sebelah timur maka tandanya air laut mulai pasang dan berada pada puncak pasang ketika bulan berada tepat di tengah. Apabila bulan telah bergeser ke sebelah barat maka tandanya air mulai surut dan akan benar-benar surut bersamaan dengan tenggelamnya bulan. Jika manusia dapat mempunyai musuh, berada dalam keadaan sehat atau suatu saat jatuh sakit, maka tanaman bakau juga dipersepsikan demikian. Bagi masyarakat, pengetahuan lokal mereka juga harus mampu menjelaskan setiap fenomena yang terjadi di tengah kehidupan mereka, bukan saja fenomena yang teramati tetapi juga yang tidak. Hal ini disebabkan karena harus ada legitimasi atas tindakan dan perilaku mereka. Persepsi atas suatu gejala akan menentukan tindakan yang dilakukan terhadap gejala tersebut. Bagi para nelayan yang menanam bakau, menganalogikan antara kehidupan manusia dengan kehidupan tumbuhan bakau nampaknya merupakan cara termudah menjelaskan gejala-gejala yang nampak maupun tidak yang terjadi dibalik hidup matinya tanaman mereka. Pada masa pertumbuhannya, bibit-bibit bakau mengalami banyak gangguan yang dikategorikan sebagai musuh, hama dan penyakit bakau yang dapat membunuh bakau-bakau muda tersebut. Bagi para nelayan, yang dikategorikan sebagai musuh bakau adalah ombak besar dan angin kencang, potongan-potongan kayu besar yang hanyut terbawa arus, dan manusia sendiri. Ombak besar dan angin kencang yang datang menerpa seringkali mencabut dan menggeser kedudukan bibit atau bakau-bakau yang masih mudah. Ombak besar dengan pecahannya yang dahsyat yang datang terutama pada musim timur sangat berbahaya khususnya bagi tanaman bakau yang terletak paling luar. Satu-satunya cara yang dilakukan mengatasi masalah ini adalah dengan mengadakan penyulaman terus menerus. Sebagai nelayan yang tidak asing dengan ombak, mengetahui bahwa ombak ini dapat ditanggulangi dengan menancapkan kayu atau bambu membentuk pagar 10 meter di luar tanaman. Jarak 10 meter ini ditentukan berdasarkan pengetahuan bahwa ombak akan pecah pertama kali sejauh 10 meter dari pantai. Pecahan ombak yang pertama ini adalah hantaman yang terkeras dan jika pagar ditanam pada jarak tersebut, maka pecahan pertama akan mengenai pagar dan setelah pecah, walaupun masih dapat terus masuk namun kekuatannya sudah tidak berarti dan tidak dapat mencabut bakau. Kayu-kayu besar yang hanyut dan terbawa arus ke pantai dapat mematahkan dan juga mencabut bibit dan bakau muda. Di Tongke-tongke, kayu-kayu besar ini tidak terlalu banyak karena nelayan-nelayan yang kebetulan sedang beroperasi di laut sekitarnya akan mengambil dan memanfaatkan kayu ini bila melihatnya. Kayu-kayu besar ini hanya dapat mencapai pantai bila datangnya malam hari dan tidak terlihat. Musuh lain dari bakau adalah manusia sendiri yaitu para nelayan yang sering mencari ikan dengan menggunakan jaring di sekitar tanaman bakau muda. Terkadang jaring yang mereka pakai ikut mengangkat bibit-bibit yang baru di tanam, atau perahu mereka menghantam bibit-bibit tersebut, mencabut atau mematahkannya. Tiram dan Kepiting (Ketam) dikategorikan sebagai hama bagi bakau yang paling banyak mengganggu. Tiram akan mulai muncul setelah bibit ditanam dan menempel berkelompok di batang-batang bagian bawah sebatas ketinggian air pasang. Tiram ini sangat menyukai bakau-bakau yang masih muda dan menghisap getah yang terdapat di batang tersebut, kemudian memakan kulit dan isi batang sampai batang keropos dan patah. Bibit atau bakau muda yang patah akibat tiram susah untuk dapat tumbuh lagi dan harus segera diganti dengan bibit baru agar tempatnya tidak kosong, dan dapat memberi peluang kepada ombak untuk bergerak dengan leluasa. Strategi lain yang digunakan bila tiram sudah berkumpul di bakau adalah dengan secepatnya menanam bibit-bibit baru di luar area tanaman yang telah ditempeli tiram. Strategi ini akan mengalihkan perhatian tiram-tiram ke bibit tersebut yang lebih muda dan lebih segar. Dengan demikian bakau lama yang ditinggalkannya diharapkan dapat tumbuh terus. Keterbatasan pengetahuan nelayan akan asal usul Tiram membuat Tiram dipercaya oleh para nelayan berasal dari lumpur, oleh karena itu ia ada di mana-mana dan tidak dapat dibasmi atau dihilangkan selama lumpur masih ada. Perilaku Kepiting tidak berbeda jauh dengan Tiram, Kepiting-Kepiting yang banyak berkeliaran di pantai dan sela-sela tanaman sering mematahkan bibit-bibit yang baru ditanam dengan capitnya. Istilah ‘terkena penyakit’ digunakan oleh para nelayan untuk mengidentifikasi bibit atau bakau muda yang pertumbuhannya terganggu, tidak sehat, batang menghitam dan kering atau mati tanpa sebab yang dapat diamati. Penyakit yang mengenai bakau yang keberadaannya dipercaya tetapi tidak dapat dilihat, berada di dalam tanah dan menyerang melalui akar bakau. Oleh karena itu bibit atau bakau muda yang memperlihatkan tanda-tanda terserang penyakit harus langsung dicabut dan diganti dengan bibit baru. Namun bibit baru pengganti tersebut tidak boleh ditancapkan di tempat bakau lama yang dicabut, karena di tempat itu dipercaya terdapat penyakit yang kembali akan mematikan bibit baru. Bibit baru pengganti harus ditanam sekitar 10 cm dari tempat bibit atau pohon lama yang terkena penyakit. Setelah bakau berumur 1 tahun, akarnya mulai kuat berpegang di tanah dan akan semakin kokoh setelah akar lutut/akar samping juga keluar dan menancap di tanah. Tanaman bakau telah dapat terus bertahan hidup setelah berusia 3 tahun. Setelah berumur 5 tahun, bakau telah dapat menahan ombak dan menjadi pelindung pantai. Pengetahuan lokal masyarakat yang berkembang ini, yang digunakan sebagai dasar untuk bertindak tidak kalah bagusnya dengan pengetahuan ilmiah. Salah satu kelebihan dari pengetahuan lokal ini adalah kemampuannya mengenali medan secara lebih spesifik dan kecocokannya dengan lingkungan fisik dan sosial budaya masyarakat dimana pengetahuan lokal tersebut berada dan tumbuh, karena pengetahuan lokal memang muncul dan berkembang sebagai jawaban terhadap kondisi-kondisi lokal. Sebagai jawaban dari kondisi lokal, pengetahuan lokal masyarakat tertentu tidak dapat begitu saja diterapkan di tempat lain yang memiliki karakteristik berbeda. Ketidakmampuan berlaku secara umum di semua tempat dan kondisi ini mungkin menjadi kelemahan dari pengetahuan lokal (kalaupun itu dapat disebut kelemahan) disamping ketidakmampuannya membuktikan secara detail hal-hal tertentu, terutama yang tidak dapat diamati dengan panca indra manusia. Berbeda dengan pengetahuan ilmiah yang kelebihannya dapat menjelaskan dan membuktikan secara detail hal-hal yang dicakupnya. Namun, pengetahuan ilmiah yang dianggap dapat berlaku secara umum (general) di semua tempat justru menjadi kelemahannya karena kadang tidak sesuai dengan kondisi lingkungan dan masyarakat setempat. Banyak kasus membuktikan bahwa kegagalan proyek-proyek pembangunan dan hancurnya tatanan sosial masyarakat akibat usaha mengintrodusir pengetahuan dan teknologi baru tanpa mengindahkan pengetahuan lokal masyarakat yang telah ada selama puluhan bahkan ratusan tahun (lihat Ostrom, 1992; Appell, 1985; Chambers, 1988, Schumacher, 1973). Perkembangan pengetahuan lokal secara terus menerus sejalan dengan perubahan yang terjadi di tengah masyarakat. Untuk tetap dapat menjadi pedoman, pengetahuan lokal diperbaharui sepanjang masa oleh masyarakat pendukungnya, untuk mengantisipasi hal-hal baru sebagai konsekwensi dari perubahan yang terjadi. Chambers, Robert Gala, Burhanuddin Jamal, Sofyan Khazali, M Lucas, Anton Nurkin, Baharuddin Ostrom, Elinor Prioharyono, J. Emmed, Y. Purwanto, Ezra M. Choesin, (eds.) Schumacher, E.F Salamun, Drs (ed.) Winarto, Yunita T |
Perkembangan Pengetahuan Lokal Nelayan dalam Usaha Konservasi Bakau